Sabtu, 22 September 2012

Cerita Kuno Sepakbola Modern Jakarta

Oke, sebenarnya tulisan ini sudah diposting di akun Kompasiana (6 Januari 2012), tapi karna saya sudah tidak aktif lagi di situs tersebut, jadi saya re-upload tulisan ini ke blog ini. Mari dinikmati kembali :)

**

Siang itu terlihat seorang anak kecil duduk di pojok bangku batu rumah tetangganya sambil membawa bola plastik yang catnya sudah mulai luntur. Nampaknya dia sedang menunggu dengan wajah polos temannya. Kemudian, seorang remaja laki-laki yang sekarang duduk di bangku perkuliah menghampirinya.
“Mau main bola, Le?” tanyanya.
“Iya mas”, jawab anak tersebut singkat. “Main di jalanan komplek sana, Mas”, lanjutnya sambil menunjuk jauh ke arah komplek bank yang tak jauh dari perkampungan tempat tinggalnya.
“Kok mainnya disana? Kan disana banyak motor sama mobil lewat?” pemuda itu melanjutkan pertanyaan.
Anak tersebut langsung berbalik bertanya kepada intelektual muda tersebut dengan ketus, “Yah, emangnya dimana lagi ada lapangan, Mas?”.
Mendengar pernyataan dari seorang bocah tetangganya tersebut, pemuda itu terdiam. Akhirnya, teman-teman kecilnya yang telah ditunggu sejak tadi datang. “Main dulu ya, Mas”, sambil menggiring bola yang dibawanya tadi. “Iya, Le. Hati-hati”, balas pemuda itu.

****

Kisah ini memang klise dan sudah jamak terdengar. Apalagi di perkotaan seperti di Jakarta, tidak tersedianya lapangan. Bahkan mencari lapangan yang tidak lebih besar dari lapangan voli pun sudah jarang ditemui. Padahal hanya untuk bermain sepakbola yang bolanya saja ‘cuma’ sekitar lima ribuan rupiah. Disana-sini yang terlihat hanya gedung perkantoran, mall dan apartemen yang peruntukannya hanya untuk masyarakat ekonomi atas Jakarta, juga komplek perumahan mewah yang dengan angkuh mengkotak-kotakan diri dari luar, dari perkampungan kumuh di sebelahnya.
Mereka yang lebih beruntung dapat dengan mudah mencari lapangan atau bermain bola. Dengan uang, mereka dapat menyewa sebuah lapangan futsal dengan harga puluhan sampai ratusan ribu per jamnya, yang belakangan menjamur di hampir seluruh penjuru negara ini. Atau bahkan, mereka dapat menyewa sebuah lapangan sepakbola konvensional.
Tapi, apakah mereka memikirkan saudara, teman dan adik mereka yang memiliki hak yang sama, hak untuk bermain, hak untuk bergembira dengan sebuah bola murahan yang mereka beli di warung kelontong tersebut? Saya tidak tahu, dan tidak mau tahu juga.
Yang mereka butuh hanya sebuah lapangan sekitar sepuluh kali lima meter, dengan tumpukan batu atau sandal-sandal sebagai penanda gawangnya. Mereka tidak butuh tiang gawang, mereka tidak butuh alas kaki dan mereka juga tidak butuh seragam tim. Mereka hanya ingin berlari, menendang serta bergembira bersama teman-teman dengan ini, dengan sepakbola.
Mungkin dari lapangan (jalanan komplek) dan di atas telapak kaki yang tidak beralas tersebut justru tersembunyi talenta yang melebihi Lionel Messi atau pun bintang muda Brazil, Neymar. Atau mungkin talenta itu telah masuk ke dalam jurang yang tidak berdasar? Atau nantinya mereka cuma menjadi seorang penonton, dan cuma jadi seorang tukang kritik seperti penulis amatiran ini (saya maksudnya). Semoga saja tidak.

klik: Cerita Kuno Sepakbola Modern Jakarta (kompasiana)

Jilbab putih itu...

Pulang dari kampus tadi aku seperti melihatmu dari kejauhan, model dan jenis jilbab yg biasa kau pakai, seperti ada moncong ke depan wajahmu, serta tipisnya bahan menembus hingga rambut hitammu samar terlihat. Warna putih jilbab selaras dengan kulit wajahmu. Juga rambut di dekat telingamu yg kadang menyempil keluar jilbabmu.
Kupacu sikuda besi untuk memastikan bahwa itu benar dirimu. Namun, kenyataannya beda. Bukan dirimu yg kuinginkan. Kenapa aku begitu deskriptif? Sepertinya aku rindu dengan dirimu. Iya, rindu yg akhir-akhir ini kian membuncah. Candaan teman teman tentang dirimu kepada semakin membuat aku.... semakin rindu...
Aku tidak berdoa untukmu, karna aku bukan siapa-siapa dirimu. Tapi, aku selalu berharap dirimu bisa menjadi sesuatu di dalam kehidupanku.

When I see you again - Gugun Blues Shelter

Day turns into night,
Here on my own again,
The hours pass so slowly,
And I’m missing you so bad.

My soul a shade of blue,
Just waiting here for you,
This feeling I have inside,
It’s killing me… tell me..

When I’m gonna see you again,
How long must I feel this pain,
I can’t wait for the day, when I see you again my love
When I’m gonna see you again,
How ling must I feel this pain,
I can’t wait for the day, when I see you again my love

A picture of you in my hand,
Turning my heart to sand,
My head feels so cold and bland,
Because I need you…. Tell me.

Kamis, 20 September 2012

Jangan salahin ya kalo....

Sesuatu yg harusnya engga terjadi, akhirnya terjadi juga. Saat aku mulai merasa 'aman' dengan keadaan yg sekarang, tiba2 sesuatu yg harusnya sudah aku lupakan, kini kembali membayang. Mungkin sudah terlalu lama, lama sekali, jaraknya udah jauh. Aku aman dengan keadaan ini.
Tapi, malam ini kerinduan akan kedekatan dengan dirimu kembali bangkit, tapi  ini belom seberapa. Engga ada apa apanya dibandingkan hari hari lalu.
Dan, saat ada yg mendekatimu, perasaan yg dulu masih sama. Ada perasaan takut, kalo boleh aku bilang cemburu. Ya, jangan salahkan aku bila rasa ini masih ada untukmu. Jangan juga menyalahkan perasaan ini, perasaan ini mungkin sudah terbiasa denganmu, walaupun sedikit.
Entah perkataanmu dulu benar benar terwujud, atau emang kau sudah lupakan diriku, aku tidak peduli.
Jangan lupakan aku, aku yg bukan siapa siapa dirimu.

Buat yg berpikir dan berperasaan

Kenapa yg indah indah itu engga abadi? Kenapa semua yg kita suka dan membuat kita nyaman engga bisa sepenuhnya bersama kita. Kehadirannya membuat hati sebiru langit musim panas dan seperti merahnya mawar yg baru merekah. Cerah dan indah. Tapi, kadang mereka tertutup awan dan terbang tertiup angin. Hilang.
Namun, jika kita melihat dari sisi yg berbeda. Mereka itu sesungguhnya tidak benar benar hilang, hanya menjauh dan tidak dalam jangkauan kita. Mereka benar benar tidak hilang, mereka masih ada 'di sini dan di sini'. Ya, yg indah itu masih ada di hati dan pikiran, dan sesungguhnya yg disana itulah tempat mereka, tidak akan bisa pergi, tidak akan hilang. Mereka akan terus bersama orang yg berpikir dan yg memiliki perasaan.

Kamis, 13 September 2012

"Ternyata kau masih sendiri...."

Pagi tadi aku kembali melihat dirimu, ternyata kamu masih sendiri karna tidak mungkin juga kamu ada yg menemani. Keindahanmu pun ternyata masih seperti dahulu, tetap enak dipandang, enak dinikmati. Tapi sungguh sayang, kamu yg indah masih sendiri dan akan tetap menyendiri terus selamanya, sampai dirimu menyelesaikan tugasmu nanti.

Namun, keindahanmu pagi tadi tidak sempurna, kamu terlalu terburu-buru keluar dari tempatmu terjaga. Mungkin dirimu terlalu bersemangat menyambut hari ini, atau malu oleh ayam yang sedari gelap sudah membangunkan si pemalas dari balik selimutnya atau juga karna burung-burung yang sudah bernyanyi, berisik sekali, tapi merdu.


Matahariku, tetaplah indah, tetaplah jadi sesuatu yang dapat kunikmati bersama fajar dan segelas kehangatanmu. Matahariku, tetaplah kau menyendiri disana, di ufuk timur sana, biar aku saja yang menemani kesendirianmu. Tetaplah menjadi yang indah, Matahariku.