Oke, sebenarnya tulisan ini sudah diposting di akun Kompasiana (6 Januari 2012), tapi karna saya sudah tidak aktif lagi di situs tersebut, jadi saya re-upload tulisan ini ke blog ini. Mari dinikmati kembali :)
**
Siang itu terlihat seorang anak kecil duduk di
pojok bangku batu rumah tetangganya sambil membawa bola plastik yang
catnya sudah mulai luntur. Nampaknya dia sedang menunggu dengan wajah
polos temannya. Kemudian, seorang remaja laki-laki yang sekarang duduk
di bangku perkuliah menghampirinya.
“Mau main bola, Le?” tanyanya.
“Iya mas”, jawab anak tersebut singkat. “Main di
jalanan komplek sana, Mas”, lanjutnya sambil menunjuk jauh ke arah
komplek bank yang tak jauh dari perkampungan tempat tinggalnya.
“Kok mainnya disana? Kan disana banyak motor sama mobil lewat?” pemuda itu melanjutkan pertanyaan.
Anak tersebut langsung berbalik bertanya kepada
intelektual muda tersebut dengan ketus, “Yah, emangnya dimana lagi ada
lapangan, Mas?”.
Mendengar pernyataan dari seorang bocah tetangganya
tersebut, pemuda itu terdiam. Akhirnya, teman-teman kecilnya yang telah
ditunggu sejak tadi datang. “Main dulu ya, Mas”, sambil menggiring bola
yang dibawanya tadi. “Iya, Le. Hati-hati”, balas pemuda itu.
****
Kisah ini memang klise dan sudah jamak terdengar.
Apalagi di perkotaan seperti di Jakarta, tidak tersedianya lapangan.
Bahkan mencari lapangan yang tidak lebih besar dari lapangan voli pun
sudah jarang ditemui. Padahal hanya untuk bermain sepakbola yang bolanya
saja ‘cuma’ sekitar lima ribuan rupiah. Disana-sini yang terlihat hanya
gedung perkantoran, mall dan apartemen yang peruntukannya hanya untuk
masyarakat ekonomi atas Jakarta, juga komplek perumahan mewah yang
dengan angkuh mengkotak-kotakan diri dari luar, dari perkampungan kumuh
di sebelahnya.
Mereka yang lebih beruntung dapat dengan mudah
mencari lapangan atau bermain bola. Dengan uang, mereka dapat menyewa
sebuah lapangan futsal dengan harga puluhan sampai ratusan ribu per
jamnya, yang belakangan menjamur di hampir seluruh penjuru negara ini.
Atau bahkan, mereka dapat menyewa sebuah lapangan sepakbola
konvensional.
Tapi, apakah mereka memikirkan saudara, teman dan
adik mereka yang memiliki hak yang sama, hak untuk bermain, hak untuk
bergembira dengan sebuah bola murahan yang mereka beli di warung
kelontong tersebut? Saya tidak tahu, dan tidak mau tahu juga.
Yang mereka butuh hanya sebuah lapangan sekitar
sepuluh kali lima meter, dengan tumpukan batu atau sandal-sandal sebagai
penanda gawangnya. Mereka tidak butuh tiang gawang, mereka tidak butuh
alas kaki dan mereka juga tidak butuh seragam tim. Mereka hanya ingin
berlari, menendang serta bergembira bersama teman-teman dengan ini,
dengan sepakbola.
Mungkin dari lapangan (jalanan komplek) dan di atas
telapak kaki yang tidak beralas tersebut justru tersembunyi talenta
yang melebihi Lionel Messi atau pun bintang muda Brazil, Neymar. Atau
mungkin talenta itu telah masuk ke dalam jurang yang tidak berdasar?
Atau nantinya mereka cuma menjadi seorang penonton, dan cuma jadi
seorang tukang kritik seperti penulis amatiran ini (saya maksudnya).
Semoga saja tidak.
klik: Cerita Kuno Sepakbola Modern Jakarta (kompasiana)
klik: Cerita Kuno Sepakbola Modern Jakarta (kompasiana)