Kita semua tahu, sepakbola tidak hanya tentang menendang bola dan meraih kemenangan, tapi ada satu hal yang tidak dapat dipisahkan dari sepakbola itu sendiri, yaitu dukungan dari kelompok suporter kepada tim yang dibanggakan. Bahkan, ada sebuah istilah “Soccer (Football) is nothing without supporter” .
Sepakbola dan suporternya bak dua sisi mata uang, di belahan dunia manapun, sepakbola dan suporter saling berhubungah, keduanya saling membutuhkan. Suporter datang memenuhi stadion untuk mendukung klub pujaannya, tidak peduli panas terik matahari yang membakar ataupun hujan badai. Mereka rela melakukan semua itu hanya demi sebuah kemenangan dan harga diri tim yang dibelanya. Dan tim sepakbola membutuhkan suporter untuk meberi dukungan semangat.
Yang mereka bawa ke dalam stadion adalah jersey atau segala hal yang menyangkut warna yang tim dibanggakan, seperti syal (scarf), hoodie, bendera-bendara raksasa (giant flags), dan untuk merayakannya dengan suar (flare) bahkan menggunakan bom asap (smoke bomb). Dan, tidak lupa dan merupakan ciri yang paling khas dari sebuah suporter adalah yel-yel atau nyanyian (chants).
Nyanyian yang dikumandangkan suporter dalam stadion dapat berpengaruh terhadap psikologi pemain dalam sebuah tim, teriakan semangat dan gairah suporter dalam stadion membuat motifasi pemain semakin bertambah, apalagi nyanyian tersebut ditujukan kepada seorang pemain yang mereka banggakan pasti akan menambah kepercayaan diri terhadap pemain tersebut.
Dan chants sendiri dapat juga menjadi musuh bagi sebuah tim, dimana suporter tim lawan mengintimdasi dengan menyanyikan lagu-lagu yang sedikit ‘menghina’ kepada sebuah tim, suporter atau bahkan menyerang langsung kepada seorang pemain.
Tapi bagaimana kalo chant tersebut hanyalah sebuah ‘nyanyian’ yang tak berarti apa-apa, hanya untuk bersenang-senang? Memang, sepakbola diciptakan untuk sebuah kesenangan. Tapi saat tim yang kita bela mengalami kebuntuan dalam mencetak gol atau bahkan tertinggal oleh tim lawan, apakah kita masih menyanyikan lagu untuk ‘menyenangkan’ diri sendiri?
Saya bertanya tentang hal ini bukan tanpa sebab dan bukan juga bermaksud untuk sok tahu, saya hanya melihat kenyataannya seperti itu. Kemarin, saat Persija menjalani partai kandang usiran di Kota Solo, suporter yang hadir justru datang bernyanyi untuk ‘bersenang-senang’. Atau mungkin karna ada suporter ‘tuan rumah’ itu sendiri? Saya tidak tahu. Melihat mereka seperti itu, saya hanya diam dan lebih fokus ke pertandingan. Tapi, bukan tidak ada nyanyian penyemangat untuk tim Persija dan saat itu saya mulai ikut bernyanyi lagi.
Dan yang terpenting, saat melihat tim yang kita bela, tim yang membuat kita rela mengeluarkan uang untuk membeli tiket sedang dalam mengalami deadlock dalam mencetak gol, harusnya kita bernyanyi memberikan semangat kepada tim.
Apapun suporternya, yang rela datang ke stadion untuk menyaksikan Persija berlaga, harus dengan sepenuh hati mendukung Persija, meberi semangat Persija dan bernyanyilah untuk Persija. Begitu juga saat datang mendukung Tim Nasional Indonesia berlaga, saat itu juga kita harus berubah menjadi satu, Merah-Putih, dan sejenak meninggalkan perbendaan warna dalam diri kita. Karena sesungguhnya kita sama, INDONESIA!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar