"Cinta itu bukan hanya kepada seseorang yang membuat kita bahagia dan nyaman di sisinya, namun cinta juga untuk hal yang telah membuat kita terluka dan sakit karenanya ..."
Berawal dari sebuah ketidak sengajaan cinta itu datang, cinta yang memang aku terlahir karena itu, cinta akan sepakbola. Entah mengapa hal yang sering membuat terjatuh, terluka, patah kaki, patah tangan atau luka mengerikan lain yang ditimbulkan oleh olahraga ini membuat aku jatuh cinta.
Pertama, mungkin cinta itu datang dari lingkungan yang membentuk paradigma untuk menyukai hal tersebut. Sang bapak mungkin, beliau yang masih kedaerahan mendukung daerah ‘asalnya’, PSIS Semarang, tim dari Jawa Tengah yang pada saat itu jadi salah satu tim besar yang ada di liga Indonesia. Padahal ada satu tim yang benar-benar dari daerah tempat kelahirannya, Surakarta (Solo, Kab. Karanganyar), yaitu Persis Solo. Mungkin karena prestasi tim tersebut tidak terlalu baik, sehingga di tempat kelahirannya sendiripun tidak terlalu banyak didukung.
Kedua, dari lingkungan sekitar masyarakat, mereka yang banyak mendukungku untuk jatuh cinta akan hal ini. Masa kecilku habis untuk melakukan apa yang aku cintai ini. Tidak di sekolah ataupun di sekitar rumah, siang ataupun malam tidak ada yang dapat menghentikan kami untuk melakukan apa yang kami cintai ini. Mulai dari sekedar bermain bola sampai menggelar sebuah home tournament, turnamen antar anak satu Rukun Tetangga (RT) yang kami buat atas kemauan kami sendiri.
Lapangan tempat kami bermain adalah sebuah lapangan sekolah Taman Kanak-kanak, atau lebih tepatnya lapangan Volley. Disana, setiap sore (jika hari libur dari pagi) kami selalu berebut dengan anak-anak dari kampung atau RT lain untuk menggunakan lapangan tersebut, karena bukan hanya kami yang menggunakan lapangan tersebut. Bahkan untuk dapat bermain di lapangan tersebut kami harus menggelar pertandingan (tim antar kampung itu), untuk mempertaruhkan sebuah lapangan, yang memenangkan pertandingan, dapat menggunakan lapangan tersebut untuk beberapa waktu. Dan yang kalah harus merelakan lapanga tersebut buat lawannya.
Di lapangan itu juga, aku pernah diangkat menjadi ‘Kapten’ oleh teman-temanku waktu saat umur sekolah dasar. Mungkin karena kharisma dan aku seorang badboy waktu itu, aku diangkat menjadi ‘pemimpin’ tim kecil itu. Jiwa kepememimpinan mungkin sudah ada dalam diriku, yang belakangan aku baru sadar aku juga pernah memimpin sebuah oraganisasi, aku seorang Ketua OSIS di sekolah.
Selain di lapangan itu sempat membuatku merasa terhormat, lapangan itu juga menyisakan sebuah cerita yang tidak mengenakkan dan akan menjadi sebuah kenangan pahit di kehidupan sepakbola yang aku cintai ini.
Suatu sore di lapangan itu, hujan mengguyur Jakarta dengan sangat lebat dan kami mengacuhkan hal itu. Kami memutuskan tetap bemain bola, dengan niat bermain bola untuk yang terakhir karena besoknya (malamnya sudah mulai tarawih yang pertama), mungkin kami telah terbiasa bermain bola di tengah hujan, namun kali ini aku bermain dengan senior (lebih tua daripada aku). Seperti biasa, sampai saat ini, aku selalu bermain sepenuh hati karena aku mencintai hal ini. Sebagai pemain belakang (posisi favorit), aku dituntut untuk bermain tegas. Dan, situasi-kondisi pun seolah menjadikan ini halal. Lapangan yang basah dan licin membuatku semakin gila, sliding-takle jadi hal yang sering dilihat dalam permainan bola sore itu.
Permainan semakin seru, tackle keras-keras pun semakin jamak dilakukan. Dan, sampai pada suatu momentum ketika pemain lawan masuk di sisi pertahanan kami, lalu ketika ada peluang terbuka, striker lawan mengambil ancang-ancang untuk melakuakan shooting. Naluriku sebagai penjaga pertahanan bangkit melihat pemain lawan mencoba menjebol gawang kami, aku yang semula berada di sisi kiri pertahanan berlari menerjang pemain tersebut. Sambil menjatuhkan diri, aku melakukan sliding tackle ke striker itu. Secara bersamaan kedua kaki kami beradu, dia menendang bola dan aku mem-blok bola. Berhasil, bola gagal masuk ke gawang, keluar lapangan.
Karena benturan tersebut kakiku merasa sakit, sakitnya tidak seperti biasa. Sakit sekali. Aku masih terduduk di tempat benturan yang tadi, belum beranjak. Terdengar dari jauh salah seorang anggota tim berkata:
“Ayo’, Riki bangun. Riki kuat!”, katanya.
“Oke”, kataku sambil masih meringis menahan sakit.
Saat mencoba untuk bangkit dan melanjutkan pertandingan kembali, kakiku lemas, tidak kuat untuk berdiri. Pergelangan kaki terasa pegal. Dengan suasana yang masih hujan, terlihat bercak darah meleleh di bawah kakiku. Aku coba untuk sekedar mengurut-urut kaki kiriku yang sakit ini. Darah semakin terlihat, darahnya keluar dari sela jari kaki tengah dengan jari manis. Saat aku mencoba membukanya, terlihat daging dan darah di kakiku mengucur semakin deras. Kakiku sobek.
Melihat darah dan luka parah itu, aku yang saat itu masih duduk di bangku Sekolah Dasar, langsung menagis. Orang yang barusan berbenturan denganku bergerak menghampiriku. Wajahnya yang pucat karena terkena hujan daritadi semakin terpucat melihat kondisiku yang seperti ini. Dia panik, dia menekan kakiku agar darahnya tidak keluar terlalu banyak. Aku yang masih kecil semakin nangis kencang ketika dia menekanku.
Karena aku yang seperti ini, pertandingan lansung dihentikan, orang yang membuat aku seperti ini bertindak gentle dengan mengantarkan diriku pulang ke rumah. Aku diboncenginya dengan sepeda milikku. Sesampainya di rumah, dia langsung ‘memberikan’ diriku ke ibu ku. Aku tidak tau lagi apa yang diabicarakan, dia langsung pulang.
Melihat anaknya seperti itu, ibuku panik, dan langsung menggantikan bajuku yang sudah basaha karena main hujan-hujanan. Setelah beberapa lama ibuku memutuskan untuk membawa diriku ke dokter. Kami meluncur ke temapt praktek dokter umum.
Sesampainnya di tempat dokter, aku langsung di periksa oleh dokter. Namun, dokter itu bilang bahwa dia tidak bisa untuk melakukan operasi (mengoperasi lukaku). Dokter tersebut hanya memberikan surat rujukan untuk dibawa ke rumah sakit atau puskesmas besar untuk dapat penanganan medis yang lebih baik.
Akhirnya aku dibawa ke Puskesmas Tebet. Aku langsung ditangani oleh dokter yang seharusnya sudah berganti shift karena waktu itu sudah menjelang waktu Maghrib dan malam ini adalah hari pertama melaksanakan shalat tarawih, tentunya mereka tidak ingin melewati hal ini, melewati malam telah lama ditunggu-tunggu selama setahun ini.
Dengan cepat ibu dokter berkaca mata dan asistennya itu mulai mengoperasi aku. Sebelumnya beliau harus membius diriku agar tidak merasakan sakit pada saat di jahit. Padahal justru saat disuntik bius tersebut adalah yang paling sakit.
“Tahan ya, dik. Kamu boleh teriak sekencang-kencangnya” kata dokter itu.
“Saya udah teriak daritadi dooooook!!” teriakku.
Dokter mencari titik tempat untuk memasukkan jarum suntik. Jleeeb! Srooot! Jarum dan cairan biusnya sudah masuk ke dalam kakiku.
“Aaah, Mamaaak sakiiit. Dok, sakit,dok!!”, teriakku.
“Tahan dik, daripada kamu ga bisa ikut lebaran nanti.”, kata dokter.
Melihat aku seperti itu, ibuku yang semula memegangi kakiku pergi keluar luar ruangan. Tidak kuasa melihat anaknya menangis seperti itu. Saat aku mulai lemas karena cairan bius tersebut, dokter mulai menjahit kakiku yang sobek. Terasa geli saat talinya masuk dan keluar kulitku. Hampir sekitar sepuluh menit adegan keluar-masuk ‘benang jahit’ itu di kakiku akhirnya berakhir.
“Ini harusnya bisa sampai lima belas jahitan, kalau lukanya ga di tempat yang susah kaya begitu. Nanti hari Selasa cek jahitannya lagi sama saya”, bilang dokter ke ibuku.
“Terima kasih ya, dok” kata ibuku.
Setelah diberikan obat yang harus di minum setiap hari, kami langsung pulang. Dan akhirnya, setelah seminggu kejadian tersebut aku telah sembuh dan jahitan di kakiku telah dilepas, aku kembali keuar dan bermain. Dan, aku dapat memulai puasaku, aku baru puasa di hari ketujuh bulan Ramadhan.
Kejadian yang telah membuatku terluka itu mungkin untuk sebagian orang akan menghentikan dan tak ingin kembali melakukannya. Tapi semenjak kejadian sore itu, aku semakin cinta dengan olahraga ini. Bahkan bebrapa bulan setelah kejadian itu aku ikut turnamen futsal yang bertajuk “Festival Persahabatan Indonesia-Jepang”, meskipun aku hany bermain sekali dan itu juga sebagai pemain cadangan, aku sangat gembira karena tim kai dapat meraih runner up. Lebih menggembirakan lagi, hal itu turnamen pertama yang kami ikuti.
Sampai saat ini aku selalu melakukan olahraga ini, olahraga yang telah membuatku seperti itu. Bukan hanya melakukan olahraga itu saja, aku kini telah menjadi suporter salah satu klub dengan sejarah panjang di Indonesia, kota tempat aku dibesarkan, Persija Jakarta! Sekarang aku mencintai klub ini sama seperti olahraganya, sepakbola. Dan cinta itu bukan hanya kepada seseorang yang membuat kita bahagia dan nyaman di sisinya, namun cinta juga untuk hal yang telah membuat kita terluka dan sakit karenanya.